๐Ÿช„ Membangun Kubah Diatas Kuburan Adalah Haram Ini Keyakinan Kaum

HaramJika di Pemakaman Umum. Setelah bersepakat bahwa meninggikan atau mendirikan bangunan adalah sebuah ke-Makruh-an, ulama 4 madzhab pun bersepakat atas keharaman meninggikan dan membangun di atas kuburan sebuah bangunan baik itu kamar, kubah atau pun tenda, jika itu berada di tanah Musabbalah [ู…ุณุจู„ุฉ]. Darihadits ini jelas sekali bahwa duduk di atas kuburan adalah haram. Hal itu tampak dari cara Nabi membuat perumpamaan bahwa orang yang duduk di atas bara api yang panas membara lebih baik ketimbang duduk di atas kuburan. Tentu ini indikasi larangan keras dalam hadits ini. Saat mengurai hadits tersebut, al-'Adzim al-Abadi dalam kitab Membangunkubah diatas kuburan adalah haram. ini adalah keyakinan kaum - 24556965 feninamhr10 feninamhr10 26.09.2019 B. Arab Sekolah Menengah Pertama terjawab Membangun kubah diatas kuburan adalah haram. ini adalah keyakinan kaum a. najjariyah b. wahabi c. ahlussunah waljamaah Sejarahbercerita, ketika Nabi sampai di Madinah, pertama sekali dikerjakan Nabi Saw adalah membangun Masjid Nabawi dengan membeli tanah seharga 10 dinar kepunyaan dua orang anak yatim Sahl dan Suhail berukuran 3 x 30 m. Bangunan yang sederhana itu hanya berdindingkan tanah yang dikeringkan, bertiangkan pohon kurma dan beratapkan pelepah kurma. Membangunkuburan hukumnya haram. Ini telah dilarang oleh Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, karena dalam perbuatan ini ada unsur pengagungan terhadap ahlul qubur (si mayit). Perbuatan ini juga merupakan wasilah dan perantara yang membawa kepada penyembahan kuburan tersebut. Sehingga nantinya kuburan tersebut menjadi sesembahan selain Allah. SyaikhAbdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab, Tidak boleh membangun sesuatu di atas kuburan, baik dengan cor maupun selainnya, demikian pula menulisinya. Sebab, terdapat riwayat yang sahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang larangan membangun sesuatu di atas kuburan dan menulisinya. Berdasarkanbeberapa keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa memasang kain di batu nisan atau membuat kubah di kuburan, khususnya pada makan para wali, tidak dilarang. Apalagi cungkup tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk membaca al-Qur'an, berdzikir dan berdo'a kepada Allah SWT. Tentu semua itu sangat dianjurkan. Atasdasar itu, membangun masjid di sisi kuburan para waliyullah merupakan perbuatan haram. Meskipun, pembangunan mesjid itu sendiri merupakan sesuatu yang ditekankan. Perbuatan seperti itu bisa menjerumuskan seseorang ke dalam perilaku syirik, hukumnya secara mutlak haram". Fatwa ibnu Taimiyah di atas didasarkan pada dalil-dalil berikut: Yahudidan Nashrani begitu mudah menjadikan kuburan nabi atau orang saleh sebagai masjid, kemudian setelah itu, kuburan disembah sebagaimana terjadi pada kaum Nabi Nuh 'alaihissalam. Siapa yang melakukan sebab suatu yang haram maka dia akan jatuh kepada keharaman. Bahkan kubah yang dibangun di atas kubur Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… adalah bangunan yang didirikan oleh seorang raja Mesir terakhir yaitu Qaluun Ash-Sholihi yang dikenal dengan Al-Manshur di tahun 678 H. Disebutkan dalam kitab 'Tahqiq An-Nushrah Bitalkhis Ma'alim Dar Al-Hijrah', 'Ini adalah urusan pemerintah, tidak ada Membangunbangunan di atas kubur berubah menjadi sebuah terma dikarenakan proposisi pembahasan-pembahasan fikih, teologi, dan sejarah tentangnya.Terma ini mencakup segala bentuk pembangunan di atas kubur, seperti kubah, "dharih", haram, masjid, dan bahkan menurut sebagian orang, meletakkan batu di sekitar kuburan.Terma bangunan di atas kuburan juga mencakup bangunan yang ada sebelum penguburan. Jawabannyatiada lain adalah karena dalam Islam memang mengharamkan untuk membangun dan membina kuburan. Karena dikuatirkan akan membuka pintu perbuatan syirik.Dan ternyata apa yang dikuatirkan tersebut terbukti sekarang ini,bagaimana sikap orang-orang yang jahil terhadap ilmu agama menjadikan kuburnya para wali,ulama dan orang-orang shalih Jk4wY. Ilustrasi membangun kuburan. Foto PixabayMakam merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi orang yang telah meninggal dunia. Umat Muslim disunnahkan untuk merawat makam keluarga maupun saudara sesama Muslim sebagai bentuk penghormatan sekaligus memuliakan hanya membersihkannya dari pohon liar atau rerumputan, banyak umat Muslim yang memaknai anjuran itu untuk merawat makam secara berlebihan. Misalnya dengan membangun makam dan menghiasnya keramik atau mengecat dan menuliskan sesuatu di atas bagaimana sebenarnya hukum membangun makam dalam Islam? Apakah itu diperbolehkan? Simak penjelasan berikut Membangun Makam dalam IslamIlustrasi makam. Foto UnsplashDijelaskan dalam buku Fikih Empat Madzhab Jilid 2 oleh Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi, dalam pandangan fiqh, hukum membangun makam dalam Islam bergantung pada tujuannya. Jumhur ulama berpendapat bahwa membangun sesuatu di atas makam, seperti rumah, kubah, masjid, atau dinding yang mencuri perhatian, hukumnya haram jika tanpa tujuan yang jelas, apalagi jika tujuannya untuk hukumnya menjadi makruh jika tidak bertujuan untuk menghias atau mempermegah makam. Misalnya, hanya sekadar untuk membedakannya dengan makam yang lain. Hukum makruh ini berlaku selama makam itu dibangun di atas tanah kitab al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arbaโ€™ah disebutkan, "Makruh membangun pada kuburan sebuah ruang, kubah, sekolah, masjid, atau tembok, ketika tidak bertujuan untuk menghias dan memegahkan, jika karena tujuan tersebut, maka membangun pada makam dihukumi haram." Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arbaโ€™ah, juz 1, hal. 536Sebaliknya, jika yang dijadikan makam adalah tanah wakaf atau tanah tempat pemakaman umum, maka hukumnya adalah haram dan wajib dibongkar. Pasalnya, bangunan makam tersebut dikhawatirkan dapat mempersempit lahan untuk makam orang makam. Foto UnsplashHukum makruf membangun makam dikecualikan jika mayit adalah orang yang saleh, ulama, atau dikenal sebagai wali. Mengutip buku Kumpulan Tanya Jawab Keagamaan oleh PISS-KTB, jika mayit yang dikubur termasuk golongan orang-orang tersebut, maka hukum membuat bangunan di atasnya termasuk qurbah sesuatu yang dinilai ibadahAlasannya karena bangunan tersebut dapat menghidupkan makam untuk diziarahi dan tabarruk mendapatkan berkah. Dalam Hasyiyah Ianah Ath-Thalibin disebutkanโ€œMakam para ulama boleh dibangun meskipun dengan kubah, untuk menghidupkan ziarah dan mencari berkah. Al-Halabi berkata, Meskipun di lahan umumโ€™, dan dia memfatwakan hal itu.โ€ Syekh Abu Bakr Muhammad Syatha, Hasyiyah Ianah Ath-Thalibin, juz 2, hal. 137Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum membangun makam adalah haram jika tujuannya tidak jelas dan dibangun di atas tanah milik orang lain, tempat pemakaman umum, atau tanah yang diwakafkan. Namun, jika ada tujuan tertentu, maka hukumnya makruh selama tanah yang digunakan milik boleh membangun kuburan?Apakah boleh memperindah makam?Kenapa kuburan Islam tidak boleh dibangun? Perihal meninggikan kuburan dengan memplesternya dengan semen kemudian membuatnya menjadi permanen, atau membangun sebuah bangunan, entah itu sebuah kamar, atau kubah diatasnya adalah perkara yang telah disepakati ke-Makruh-annya oleh ulama 4 madzhab Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali.[1]Tidak ada satu madzhab pun yang mengatakan bahwa itu sebuah keharaman, 4 madzhab fiqih menghukumi sebagai perkara yang makruh. Dalil kemakruhan yang dipakai oleh 4 madzhab tersebut ialah hadits riwayat Imam Muslim dan juga Imam Tirmidzi dari sahabat Jabir bin Abdullahู†ูŽู‡ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฌูŽุตู‘ูŽุตูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ูŠูุจู’ู†ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู"Rasul saw melarang untuk meninggikan/memplester kuburan dan memabangun diatasnya sebuah bangunan" HR MuslimDalam riwayat Imam Tirmidzi ada tambahan [ุฃู† ูŠูƒุชุจ ุนู„ูŠุน] "dan juga dilarang utuk menuliskan sesuatu diatasnya" HR TirmidziMungkin menjadi pertanyaan, dalam redaksi haditsnya itu ada pelarangan, dan pelarangan dalam teks syar'i itu mengandung sebuah keharaman. Kenapa para ulama tidak mengharamkan itu?Alasannya bahwa memang ada pelarangan untuk itu, akan tetapi ummat ini telah berยญ-Ijma' atas kebolehannya menguburkan Nabi Muhammad saw dalam sebuah kamar, yaitu kamar 'Aisyah, dan tidak ada satu pun ulama yang menyanggahnya. Kalaupun ini dilarang pastilah akan ada yang pelarangn yang ada dalam redaksi hadits itu telah dipalingkan menjadi sebuah ke-makruh-an saja. Namun dalam penerapannya, walaupun memang semua sepakat bahwa itu makruh, masing-masing madzhab punya pendapat kadar makruh yang hasyiyah-nya, Imam Ibnu Abdin dari kalangan Hanafiyah menyatakan kebolehan dan tidak Makruh, terlebih jika itu adalah kuburan para syuhada', orang sholeh dan para guru yang khawatir akan ada pencurian atau pengrusakan, atau bahkan hilang. Sebagaimana juga disampaikan oleh Imam Al-Dimyathi dari kalangan syafiiyah dalam kitabnya Hasyiyah I'anah Al-Tholibin.[2]Dan itu adalah upaya yang baik Hasan, dan semua orang melihatnya sebagai sebuah kebaikan. Dan Rasul saw melalui sahabat Ibnu Mas'ud mengatakanู…ูŽุง ุฑูŽุขู‡ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู†ูŽ ุญูŽุณูŽู†ู‹ุง ููŽู‡ููˆูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุญูŽุณูŽู†ูŒ"Apa yang manusia nilai sebagai sebuah kebaikan, maka itu juga baik menurut pandangan Allah saw" [3]Haram Jika di Pemakaman UmumSetelah bersepakat bahwa meninggikan atau mendirikan bangunan adalah sebuah ke-Makruh-an, ulama 4 madzhab pun bersepakat atas keharaman meninggikan dan membangun di atas kuburan sebuah bangunan baik itu kamar, kubah atau pun tenda, jika itu berada di tanah Musabbalah [ู…ุณุจู„ุฉ].Tanah Musabbalah [ู…ุณุจู„ุฉ] ialah tanah atau kawasan yang memang orang biasa menguburkan mayyit disitu, artinya ialah pemakaman umum.[4]Konklusinya bahwa ulama sepakat bahwa meninggikan kuburan dan membangun di atasnya sebuah bangunan itu hukumnya makruh jika makam itu berada di tanah milik sendiri. Dan menjadi haram hukumnya jika makam itu berada di pemakaman umum yang di kiri serta kanannya banyak kuburan saudara muslim lainnya.[5]Imam Al-Mardawi mengutip perkataan Abu Al-Ma'ali dari kalangan Hanbali bahwa mendirikan bangunan di atas kuburan yang ada di pemakaman umum itu mengagngu dan membuat penyempitan yang sama sekali tidak sejatinya pemakaman umum itu disediakan untuk memakamkan mayit, dan bukan untuk dibangun yang akhirnya membuat sempit. Imam Taqiyudin dari kalangan hanbali juga mengatakan bahwa yang mendirikan bangunan di makam yang berada di pemakaman umum itu adalah Ghosib tukang rampas hak orang lain.[6]Harus DihancurkanMadzhab Syafi'i dan Maliki, selain mengharamkan pendirian bangunan di atas makam yang berada di pemakaman umum, kedua madzhab ini juga menambahkan sebuah ketentuan lain, yaitu wajib dihancurkan.[7]Jadi, kalau memang ada yang mendirikan bangunan entah itu kubah, kamar atau tenda di atas makam yang berada di pemakaman umum, maka wajib dihancurkan bangunan tersebut sampai tak Syafi'i mengatakan sebagaimana dikutip oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu'ูˆุฑุฃูŠุช ู…ู† ุงู„ูˆู„ุงุฉ ู…ู† ูŠู‡ุฏู… ู…ุง ุจู†ูŠ ููŠู‡ุง ู‚ุงู„ ูˆู„ู… ุงุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ูŠุนูŠุจูˆู† ุนู„ูŠู‡ ุฐู„ูƒ ูˆู„ุงู† ููŠ ุฐู„ูƒ ุชุถูŠูŠู‚ุง ุนู„ูŠ ุงู„ู†ุงุณ"Dan aku melihat para imam pemimpin menghancurkan bangunan-bangunan di pemakaman umum, dan aku tidak melihat para ahli fiqih mencela perbuatan imam itu. Itu karena bangunan tersebut membuat sempit bagi yang lain"[8]Pandangan Masing-Masing MadzhabSecara umum sebagaimana dikatakan diatas bahwa meninggikan atau mendirikan bangunan di atas kuburan itu hukumnya haram jika berada di pemakaman umum. Dan makruh jika di tanah selain pemakaman umum, namun kadar ke-makruh-an setiap madzhab berbeda. Berikut penjelasannyaMadzhab HanafiImam Abu Hanifah memandang bahwa mkaruh hukumnya meninggikan atau juga membangun sebuah bangunan diatas kuburan, entah itu sebuah kamar atau juga kubah. Menjadi haram kalau diniatkan sebagai penghiasan, atau juga sebagai pamer atau itu sama saja seperti menghias kuburan, dan menghias kuburan adalah perbuatan menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak syari' tetapi dalam hasyiyah-nya, Imam Ibnu Abdin membolehkan jika tidak ada unsur itu semua, terlebih jika itu adalah kuburan orang sholeh dan para guru yang khawatir akan ada pencurian atau pengrusakan, atau bahkan itu adalah upaya yang baik Hasan, dan semua orang melihatnya sebagai sebuah kebaikan. Dan Rasul saw melalui sahabat Ibnu Mas'ud mengatakanู…ูŽุง ุฑูŽุขู‡ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู†ูŽ ุญูŽุณูŽู†ู‹ุง ููŽู‡ููˆูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุญูŽุณูŽู†ูŒ"Apa yang manusia nilai sebagai sebuah kebaikan, maka itu juga baik menurut pandangan Allah saw" [9]Madzhab MalikiSama seperti pendahulunya, Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki juga menghukumi haram jika memang pembangunan itu diniatkan sebagai ajang pamer dan menyombongkan mayit atau keluarga si mayit. Imam Al-Dasuqi mengatakanุงู„ู’ุจูู†ูŽุงุกู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู‚ูŽุจู’ุฑู ุฃูŽูˆู’ ุญูŽูˆู’ู„ูŽู‡ู ูููŠ ุงู„ุฃูŽุฑูŽุงุถููŠ ุงู„ุซู‘ูŽู„ุงุซูŽุฉู - ูˆูŽู‡ููŠูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู…ู’ู„ููˆูƒูŽุฉู ู„ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุจูุฅูุฐู’ู†ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽูˆูŽุงุชู - ุญูŽุฑูŽุงู…ูŒ ุนูู†ู’ุฏูŽ ู‚ูŽุตู’ุฏู ุงู„ู’ู…ูุจูŽุงู‡ูŽุงุฉู ูˆูŽุฌูŽุงุฆูุฒูŒ ุนูู†ู’ุฏูŽ ู‚ูŽุตู’ุฏู ุงู„ุชู‘ูŽู…ู’ูŠููŠุฒู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฎูŽู„ุง ุนูŽู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูƒูุฑูู‡ูŽ"memagari atau mendirikan bangunan di atas kuburan atau sekitarnya di 3 tanah milik sendiri / milik orang lain dengan izin / pemakaman umum adalah haram jika diniatkan untuk ajang pamer dan kesombongan. Dan boleh jika sebagai penanda agar tidak hilang, dan kalu tidak ada unsur itu semua, maka hukumnya makruh"[10]Madzhab Syafi'iMadzhab Syafi'i dalam hal ini mempunyai 2 riwayat perihal hukum meninggikan kuburan atau mendirikan bangunan di atasnya, yaitu Mubah boleh dan juga makruh. Namun pendapat yang mengatakan makruh lebih kuat sebagai pendapat madzhab. Imam Nawawi mengatakanู‚ุงู„ ุงุตุญุงุจู†ุง ุฑุญู…ู‡ู… ุงู„ู„ู‡ ูˆู„ุง ูุฑู‚ ููŠ ุงู„ุจู†ุงุก ุจูŠู† ุงู† ูŠุจู†ู‰ ู‚ุจุฉ ุฃูˆ ุจูŠุชุง ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡ู…ุง ุซู… ูŠู†ุธุฑ ูุงู† ูƒุงู†ุช ู…ู‚ุจุฑุฉ ู…ุณุจู„ุฉ ุญุฑู… ุนู„ูŠู‡ ุฐู„ูƒ ู‚ุงู„ ุงุตุญุงุจู†ุง ูˆูŠู‡ุฏู… ู‡ุฐุง ุงู„ุจู†ุงุก ุจู„ุง ุฎู„ุงู"Para sahabat kami โ€“rahimahumullah- ulama syafiiyah berkata tidak ada bedanya dalam hal bangunan di atas kuburan, baik itu kubah atau rumah atau selain keduanya hukumnya tetap makruh, namun ditinjau. Kalau itu di pemakaman umum, maka hukumnya haram. Para sahabat kami berkata wajib dihancurkan tanpa ada perbedaan"[11]Madzhab HanbaliูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ุจูู†ูŽุงุกู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ููŽู…ูŽูƒู’ุฑููˆู‡ูŒ , ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽุญููŠุญู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู , ุณูŽูˆูŽุงุกูŒ ู„ุงุตูŽู‚ูŽ ุงู„ู’ุจูู†ูŽุงุกู ุงู„ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ุฃูŽู…ู’ ู„ุง , ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑู ุงู„ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจูImam Al-Mardawi dalam Al-Inshof "Adapun mendirikan bangunan, makruh hukumnya. Dan ini pendapat madzhab yang sah. Baik itu bangunan menempel dengan tanah atau tidak sama saja"[12]Beberapa ulama dari kalangan Hanabilah mengatakan bahwa yang dilarang membuat bangunan itu ialah larangan membuat sebuah masjid atau semisalnya yang mempunyai untuk menjadi tempat sholat. Bukan larangan membuat kamar atau tenda atau juga ini sejalan dengan hadits Nabi saw yang menjelaskan tentang pelaknatan orang-orang Yahudi karena menjadikan kuburan-kuburan para nabi mereka sebagai tempat sesembahan,ู„ูŽุนูŽู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏูŽ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุตูŽุงุฑูŽู‰ ุงุชู‘ูŽุฎูŽุฐููˆุง ู‚ูุจููˆุฑูŽ ุฃูŽู†ู’ุจููŠูŽุงุฆูู‡ูู…ู’ ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏูŽ"Allah melaknat orang-orang Yahudi karena mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat sujud" HR MuslimWallahu A'lam[1] Hasyiyah Ibnu 'Abdin 1/601, Hasyiayh Al-Dasuqi 1/424-425, Al-Majmu' 5/296, Al-Inshof 2/549-550, Kasysyaful Qina' 2/139[2] Hasyiyah Ibnu 'Abdin 1/601, Hasyiyah I'anah Al-Tholibin 2/120[3] Hasyiyah Ibnu 'Abdin 1/601[4] Hasyiyah Qolyubi wa 'Umairoh 1/350[5] Hasyiyah Ibnu 'Abdin 1/601, Hasyiayh Al-Dasuqi 1/424-425, Al-Majmu' 5/296, Al-Inshof 2/549-550,[6] Al-Inshof 2/549-550[7] Hasyiayh Al-Dasuqi 1/424-425, Hasyiyah Qolyubi wa 'Umairoh 1/350, Hasyiyah I'anah Al-Tholibin 2/120[8] Al-Majmu' 5/298[9] Hasyiyah Ibnu 'Abdin 1/601[10] Hasyiayh Al-Dasuqi 1/424-425[11] Al-Majmu' 5/298[12] Al-Inshof 2/549-550 MEMBINA KUBAH DAN MASJID DI SISI MAKAM Disediakan oleh Al-haqir Wal- faqir Abd. Raof Nurin Al Bahanji Al-Aliyy. Pondok Tampin NSDK. ุฃู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุชุฉ . Wahabi berdalil dengan serangkaian hadis mengharamkan pembangunan kubah dan masjid di sisi makam berdasarkan beberapa kefahaman daripada hadis ini. Imam Bukhari meriwayatkan dua hadis di dalam Sahihnya pada bab โ€œMakruh menjadikan kuburan sebagai masjidโ€. Pertama Ketika Hasan bin Hasan bin Ali meninggal dunia, isterinya memasang sebuah kubah di atas kuburan, ketika setahun kemudian ia mengangkatnya kembali, orang โ€“orang mendengar suara teriakkan โ€œApakah mereka telah menemukan yg hilang?โ€, Suara yg lain mengjawab โ€œBahkan mereka berputus asa dan berbalikโ€. Kedua Allah melaknat orang- orang Yahudi dan Nasrani yg menjadikan kuburan Nabi mereka sebagai masjid. Siti Aishah berkata , jika bukan kerana takut hal itu Makam Nabi akan menjadikan Masjid nescaya kaum muslimin akan menampakkan makam Baginda yakni tidak meletakkan perghalang/tutupan dinding di sekitarnya, hanya saja saya khuatir makamnya dijadikan masjid. Ketiga Dalam sahih Muslim, jilid 2 m/s 68 โ€œ Ketahuilah bahawa orang โ€“ orang sebelum kamu menjadikan Makam Nabi โ€“ Nabi mereka sebagai Masjid, maka janganlah sekali- kali sekelian kamu menjadikan kubur sebagai masjid, saya mencegah kamu semua dari berbuat begitu.โ€ Keempat Sahih Muslim Kitab Al- Masajid jilid 2 m/s 66 โ€œ Ummu Habibah dan Ummu Salamah menyebutkan , bahawa keduanya melihat lukisan rupa Rasul Allah di sebuah gereja di Habsah yakni ketika mereka berhijrah kesana bersama muhajirin ketika hijrah pertama. Rasullah bersabda โ€œ Mereka adalah golongan orang yg apabila ada orang soleh di kalangan mereka meninggal dunia, mereka membangunkan masjid diatas makam dan melukis lukisan- lukisan tersebut, mereka adalah paling jahat makhluk di sisi Allah di hari kiamatโ€. Kelima Sunan Nasa`I jilid 3 m/s 77 โ€œ Rasullah melaknat wanita- wanita yg berziarah kekubur , orang- orang yg menjadikannya sebagai masjid serta orang yg menyalakan lampu di tempat tersebut.โ€ Inilah beberapa dalil yg diutarakan oleh golongan Wahabi, sehingga mereka meruntuhkan kubah- kubah yg di bina beratus tahun dan merosakkan sebahagian besar daripada kesan sejarah warisan daripada sahabat Radiallahu Anhum khususnya daripda Rasullah . Sehingga pada hari ini usahkan kelihatan zahirnya tempat-tempat perjalanan peristiwa penting didalam agama, namanya pun hampir tidak kedengaran lagi. Misalnya Telaga Mengambil Wuduk yg berada di sekitar Masjid Nabi Beberapa kesan sejarah yg berada di Badar Al- Kubra yg telah mereka hapuskan. Ini boleh kita dapati dengan membaca dan menelitinya daripada ulasan Pakar Sejarah , Doktor Husain Haikal. Beliau telah menitiskan air mata kesayuan apabila sampai di Badar Al- Kubra, tatkala mendapati tiada satupun kesan zahir yg ketinggalan melainkan telah lenyap- selenyapnya oleh penbenterasan Wahabi. Ibnu Taimiyah adalah orang yg mula- mula menyebarkan keyakinan ini sedang Muhammad bin Abdul Wahab Pengasas Wahabi adalah yg selalu yg mengikutinya. Beliau menafsirkan bahawa tidak boleh membangunkan masjid di atas atau di sebelah makam. Ibnu Taimiyah juga menulis โ€œBahawa ulamak kita berkata bahawa tidak boleh dibangunkan masjid dikuburanโ€. Lihat ziarah kubur m/s 106. Tetapi Ibnu Taimiyyah tidaklah sedahsyat Wahabi yg telah berjaya mempraktikkan seluruh idea tersebut. Sekarang marilah kita meneliti matan- matan hadis tersebut sehingga jelas kandungan maksudnya yang sebenar. Hal ini penting yg perlu diperhatikan, sebagaimana kita boleh mendapatkan penerangan bagi kesamaran sesuatu ayat Al-Quran dengan menafsirkannya dengan berdasarkan ayat yg lain, begitu pulalah hadis kita dapati penjelasan sesuatu kesamarannya dengan meneliti tafsirannya pada hadis yg lain. Wahabi dengan kebiasaannya berpegang pada zahir sesuatu hadis, beranggapan bahawa seluruh pembinaan kubah atau masjid di samping makam adalah terlarang dan haram hukumnya sehingga dikatakan syirik. Padahal jika mereka mengumpulkan semua hadis berkenaanNya nescaya akan diketahui maksud Nabi dengan larangan dan laknat pada hadis- hadis tersebut. Untuk mengetahui maksud hadis tersebut secara benar, kita mestilah mengetahui apakah yg telah dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani terhadap Makam Nabi-Nabi mereka. Nabi melarang kita berbuat seperti mana halnya perbuatan Yahudi dan Nasrani tersebut dan ianya akan menjadi jelas bentuk larangan dan maksudnya jika kita mengetahui isi perbuatan mereka itu. Dalam hadis- hadis tersebut terdapat bukti bahawa mereka menjadikan Makam- Makam Nabi mereka sebagai KIBLAT . Mereka meninggalkan kiblat yg sebenarnya , lebih jauh daripada itu sebagai mengganti penyembahan terhadap Allah , mereka menyembah Nabi- Nabi mereka, atau paling tidak, mereka menjadikan Nabi- Nabi mereka sebagai SEKUTU TUHAN dalam sembahan. Jika maksud hadis itu adalah larangan menjadikan makam mereka sebagai kiblat atau menjadi sekutu Allah dalam sembahan, Maka tidak menjadi alasan sama sekali berdalil dengan hadis- haids tersebut untuk mengharamkan kubah dan masjid yg dibina di atas atau disisi kubur. Para penziarah tidak pernah menjadikan Makam Para Sahabat dan Tabiin dan Para Ulamak di Maโ€™la dan Baq`i sebagai tempat sembahan, mereka menyembah Tuhan yg Esa dan menghadap Kaabah ketika sembahyang. Para penziarah yg tentunya terdiri bukan saja daripada awam muslimin bahkan dikalangan Sahabat, Tabiโ€™in , dan Ulamak Solihin , tidak pernahlah tertipu dengan dakwaan Wahabi menziarahi dan membina kubah di kuburan sebagai menyembah kuburan . Ini jelas jika kita memerhatikan pengebumian jenazah didalam masjid atau binaan telah berlaku sejak zaman Rasulullah As Samhudi dalam Wafa ul Wafa jilid 3 m/s 97 โ€œ ketika Fatimah binti Asad meninggal dunia, Nabi memerintahkan menguburkannya di sebuah masjid dan sekarang dikenali sebagai Makam Fatimah. Samhudi juga berkata Mus` ab bin Umair dan Abdullah bin Jahsi telah dimakamkan di masjid yg dibina di atas Makam Hamzah Radiallahuanhuโ€. Wafa ul Wafa jilid 3 m/s 922 dan 936. Rasulullah sendiri ,telah di Makamkan didalam binaan , yaitu Hujrah Sayyidatina Aโ€™yisah Ra, anha dengan Ijmak Para Sahabat Ra,anhum. Dan berbagai lagi dalil yg didapati mengharuskan pembinaan Kubah diatas Makam. Sebahagian Ulamak telah mengemukakan 15 dalil dan hujjah keharusan membina Kubah dan Masjid disisi Makam. Berbalik kepada makna perbahasan hadis tersebut, marilah kita memerhatikan beberapa riwayat hadis sahih yg menjadi tafsiran kepada beberapa hadis yg menjadi dalil kepada Wahabi tersebut. Di antara riwayat hadis tersebut adalah seperti berikut Riwayat hadis Muslim yg keempat hadis yg keempat menjadi penjelasan kepada hadis- hadis yg sebelumnya. Iaitu ketika dua isteri Nabi mengatakan mereka menyaksikan lukisan โ€“ lukisan Nabi di dalam gereja Habshah, lantas Nabi bersabda โ€œ Mereka adalah orang- orang yg apabila, orang soleh dikalangan mereka meninggal dunia lantas mereka membuat masjid atasnya dan melukis lukisan- lukisannya di masjid tersebut.โ€ Tujuan meletakkan lukisan di sisi makam mereka adalah untuk bersujud dengan menjadikan lukisan dan makam mereka sebagai kiblat, lebih jauh mereka menjadikan lukisan dan makam sebagai berhala yg disembah. Kemungkinan ini perlu di perhatikan sebab orang โ€“orang Nasrani memiliki kecenderungan yg sangat untuk menyembah manusia dan patung. Dengan adanya kemungkinan yg kuat ini adalah keliru menggunakan hadis- hadis yg tersebut sebagai dalil pengharaman pembinaan masjid diatas atau disebelah makam- makam yg terlepas daripada penyalahgunaan tujuan pembinaannya semacam ini Imam Ahmad didalam Musnad beliau jilid 3 m/s 248, dan Imam Malik didalam Al- Muwatak, kedua Beliau ini telah meriwayatkan daripada Nabi setelah Baginda melarang penyalah gunaan tersebut lalu berdoaโ€ Ya Allah , janganlah kau jadikan KUBURKU sebagai BERHALA yg disembahโ€. Ayat doa daripada Nabi ini jelas menunjukkan bahawa kesalahan terletak pada memperlakukan kuburan seperti berhala atau kiblat. Hadis Siti Aishah yg kedua, menjelaskan kebenaran ini iaitu setelah menukilkan hadis tersebut daripada Nabi kemudian Siti Aishah berkata โ€œ Jika bukan kerana takut hal itu Makam Nabi dijadikan masjid , nescaya kaum Muslimim akan menampakkan Makamnya tidak menaruh tutupan disekitarnya hanya saja saya khuatir, jika dinampakkan akan di jadikan Masjid.โ€ Jelaslah bahawa tutupan atau penghalang atau tembok yg dibina adalah untuk mencegah orang daripada mendirikan sembahyang diMakam atau menjadikannya berhala atau kiblat. Bukan bermakna semata-mata muthlak larangan membina Masjid sebagaimana yg difahamkan oleh Wahabi. Ini bukanlah satu takwil atau tafsiran yg disangka oleh Wahabi, sebagai menyeleweng daripada maksud sebenar yg mereka jadikan dalil, larangan pembinaan masjid dan kubah disisi makam. Al Allaamah Sindi dalam Taโ€™liq beliau pada Sunan Nasa i, jilid 2 m/s 41 telah menafsirkan larangan yg dimaksudkan dengan catitan yg bermaksud โ€œBeliau mencegah umatnya daripada perbuatan Yahudi dan Nasrani, kerana mereka sujud di kuburan Nabi- Nabi mereka dengan mengagung- agungkanNya dengan menjadikanNya KIBLAT. Kita perhatikanlah akibat daripada tutupan dari tembok yg terbina di makam Nabi 1 Mencegah orang โ€“orang menjadikannya sebagai berhala dan disembah. Dengan adanya penghalang/ tutupan mereka tidak dapat lagi melihat makam dan dijadikannya sebagai sembahan berhala. 2 Mencegah orang โ€“ orang menjadikan makam sebagai kiblat, didalam hal ini menjadikan kiblat bererti melihat makam. Kiblat disini bukanlah bermaksud Kaโ€™bah baik dilihat mahupun tidak, sebab Kaโ€™bah adalah Kiblat rasmi Muslimin sedunia. Adapun menjadikan makam sebagai kiblat, maka khusus bagi mereka yg mendirikan sembahyang didalam Masjid Baginda Penyelewengan- penyelewengan sedemikian lebih mungkin terjadi apabila Makam telah ternampak sebagaimana dikhuatirkan oleh Siti Aishah Ra, ha.. 3 Para pensyarah Kitab Sahih Bukhari dan Muslim menafsirkan hadis tersebut seperti yg kita huraikan. Tidaklah kita menyelewengkan sedikitpun tafsiran seperti yg telah didakwa oleh Wahabi. Imam Al Qastalani didalam Kitab Irsyad AsSari syarah Sahih Bukhari berkata, โ€Orang- orang Yahudi dan Nasrani, untuk menghidupkan peringatan pada sesepoh orang-orang tua mereka , memasang lukisan disisi makam- makam mereka dan menyembah Allah disebelahnya. Namum para penerus setelah mereka kerana godaan syaitan, menyembah lukisan tersebut.โ€ Kemudian Al Qastalani menukilkan dari Tafsir Baidhowi, โ€œ Dikeranakan kaum Yahudi dan Nasrani bersujud di Makam Nabi mereka untuk mengagungkannya serta menjadikannya sebagai berhala maka kaum Muslimin dilarang daripada melakukan hal seperti itu. Adapun jika seseorang , atas dasar ingin bertabarruk membangun masjid disebelah Makam Orang Soleh, bukan untuk menyembahnya dan bukan nya untuk menghadapnya ketika sembahyang, maka ia tidak termasuk didalam ancaman ini.โ€ Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Kitab Fathul Bari mendokong Tafsiran ini dan berkata, โ€œ Yg dilarang adalah kondisi kubur, seperti yg berlaku dikalangan Ahli Kitab, jika BUKAN DEMIKIAN MAKA TIDAK DILARANG.โ€ Dalam syarah Muslim m/s 13 juzuk 5 Darul Saqafiah Al- Arabiah Fil Bait, Imam Nawawi mengkomentari hal ini dengan berkata, โ€œ Sesungguhnya Nabi melarang umatnya dari menjadikan makam beliau dan makam lain beliau sebagai masjid, hal itu dikeranakan agar Muslimin tidak berlebih- lebihan dalam mengagungkan sehingga terfitnah dengannya, maka barangkali membawa kepada kekufuran SEBAGAIMANA YG TELAH BERLAKU PADA KEBANYAKAN PADA UMAT- UMAT YG TERDAHULU. Ketika berhajat Para Sahabat Radiallahu taโ€™ala dan Para Tabiโ€™in membesarkan masjid bila mana muslimin bertambah ramai, dan bertambah melebar luas masjid sehingga termasuklah rumah para Ummahatul Mukminin didalam masjid dan sebahagian daripadanya ialah bilik Siti Aishah R,anha yg dimakamkan didalamnya Rasulullah dan Dua Orang Sahabat Baginda, mereka Para Sahabat dan Tabiin telah membina benteng tinggi yg bulat mengelilingi makam agar tidak kelihatan dari masjid, yg mana mungkin menyebabkan bersembahyang BAGINYA MENGHADAPNYA OLEH ORANG- ORANG AWAM YG MEMBAWA KEPADA PERKARA YG TERLARANG. Kemudian mereka juga membina dua dinding di dua tiang kubur dipihak kiri dan tepi keduanya hingga bertemu, sehingga tidak memungkinkan seseorang menghadap ke arah kubur. Kerana sebab inilah apa yg telah disabdakan oleh Nabi didalam hadis. Perkataan Siti Aishah mengisyaratkan kenyataan ini, โ€œ Jikalau tidaklah demikian itu , nescaya dinyatakan kelihatan kuburnya Nabi hanyalah kerana ditakuti bahawa dijadikan dia masjid.โ€ Waallhu taala bi sawab Pensyarah lain pula berkata, perkataan Siti Aishah adalah berkaitan dengan masa sebelum perluasan masjid. Adapun setelah perluasan masjid dan biliknya dimasukkan didalam masjid , maka bilik tersebut dijadikan berbentuk segitiga hingga orang tidak sembahyang dimakam Nabi Kemudian berkata pensyarah tersebut , golongannya Nasrani dan Yahudi menyembah Para Nabi disebelah makam mereka dan menjadikan mereka sebagai sekutu Allah. Dengan konteks dan pemahaman para pensyarah hadis tersebut , tidak memungkinkan adanya permahaman โ€“ pemahaman yg lain dan mereka berfatwa pula dengannya. Jikalau Wahabi ingin berbahas dengan matan hadis secara ilmu mengikut mantik , balaghah dan nahu saraf dan alat- alatnya dipersilakan jika mereka mahu berbuat demikian. InsyaAllah sekadar yg kefahaman yg dianugerahkan Allah akan kita sambut dengan senang hati. Sekarang kita berpaling dari konteks pemahaman hadis tersebut, dan menghuraikan permasalahan di sudut yg lain pula. Bahawa hadis tersebut berkenaan dengan masjid dan kubah yg dibangunkan diatas kuburan . Ini adalah hal yg berkaitan dengan bangunan dan kubah diatas makam yg mulia. Sedangkan dikebanyakan tempat yg dijumpai , masjid dibangun disebelah makam para Imam, seperti Imam Syafi`e, Sheikh Abdul Qadir Jalani dan ada yg terpisah bangunan masjid dari kuburnya dan ada yg dipisahkan oleh bilik yg khas . Maka dalam konteks Pembinaan Masjid yg terlarang ,jika menurut kefahaman wahabi ,adalah tidak termasuk dalam kategori tersebut. Bagaimana boleh kita katakan , membina masjid disamping kuburan hukumnya haram, kerana semua orang menyaksikan masjid Nabi berada disamping makam beliau. Jika dikatakan Masjid Nabi hukumnya adalah khusus pada masjid Nabi sahaja, dan pula terbina Masjid Nabi saw lebih dahulu dari adanya Makam Baginda saw. Maka dijawab Dimana diambil dalil pengkhususan dan pengecualian tersebut jika hanya berdasarkan hadis-hadis yg telah dibahaskan tersebut yg dilalahnya menunjjukkan keumuman larangan?. Mengapa Makam Kedua Sahabat termasuk dalam binaan,padahal keduanya bukan Nabi?. Dan jika terdahulunya terbina Masjid dari keberadaan Makam sebagai hujjah ,mengapa sahabat memahamkam boleh dibinakan Masjid sehingga meliputi Makam ?. Jika para sahabat, merupakan teladan yg harus diikuti, kenapa didalam masalah ini kita membantahi mereka?. Mengapa mereka membiarkan saja kehendak Saidina Abu Bakar dan Umar rahuma untuk di semadikan di binaan bersama Nabi saw?. Mereka yg telah memperluaskan masjid hingga makam Nabi dan sahabatnya berada ditengah- tengah masjid. Jika benarlah membangunkan masjid disisi makam tidak dibolehkan, mengapakan muslimin memperluaskan masjid Nabi dari semua arah sehinggakan makamnya berada ditengah- tengah. Adakah mereka dikata kan tidak faham atau tidak menghiraukan kebimbangan Siti Aisyah rha.?. Atau membantahi Rasul Nya Padahal dahulunya masjid berada disudut timur makam, dikeranakan perluasan, bahagian barat dan hadapan termasuk didalam masjid. Mengapa tidak diperluaskan hanya arah yg tidak melibatkan Makam?. Sebenarnya riwayat tersebut hanya menjelaskan kepada kita bahwa Nabi saw melarang pembangunan masjid diatas atau disisi makam/ kubur. Tetapi tidak ada dalil yg pasti, menunjukkan larangan tersebut adalah haram. Itu pun hanya berdasarkan illah-illah yg tertentu. Adalah kemungkinan larangan tersebut adalah bererti Tanzih atau makruh, sebagaimana yg telah ditafsirkan oleh Al Bukhari didalam bab โ€œDimakruhkan membuat masjid diatas kuburanโ€. Sahih Bukhari jilid m/s 111. Soalnya mengapakah hanya Hukum Makruh yg dicatit Al Bukhary ,tidak Haram?. Tentulah ada sesuatu sebab sehingga terjadinya penghukuman yg tidak putus keharamannya, sebagaimana yg dibahas dalam Ilmu Usul Fiqah. . Wahabi telah mencari dalih untuk menghancurkan kubah di Ba`qi dengan alasan bahawa tanah di Ba`qi adalah tanah wakat, dengan sedemikian semestinya segenap inci digunakan . Segala sesuatu yg bersifat kekal mestilah di hapuskan termasuklah bangunan di atas makam keluarga Rasullah kerana hal tersebut mengurangi manfaat tanah wakaf tersebut. Jadi kesemua tiang , tembok , bangunan, tembok kubah pada makam- makam semestinya di hilangkan agar maksud terlaksana. Ini hanyalah helah Wahabi , realitinya jika tidak berdalil pun ,mereka akan menghancurkan semahunya. Kerana dasar inilah mereka mencari dalil dan mendakwa tanah di Ba`qi adalah wakaf, padahal itu adalah prasangka sahaja. Tidak ada kitab sejarah atau hadis, tanah Ba`qi adalah wakaf, yg ada memperkirakan Ba`qi sebagai tanah yg mati. Masyarakat Madinah memakamkan ahli mereka disana. As Samhudi didalam Wafaul Wafa menulis, bahwa orang pertama dimakamkan di Ba`qi adalah Usman bin Maz`un. Ketika putera Nabi Saidina Ibrahim wafat, Baginda memerintah agar dikebumikan disebelah Usman bin Maz`un. Mulai saat itu orang memakamkan mayat mereka di Ba`qi. Mereka menebang pokok- pokok dan membahagikan tempat untuk kabilah mereka . Selanjutnya dikatakan bahawa di tanah Ba`qi terdapat pokok yg bernama Gharqad adalah pokok yg terdapat dipadang pasir di Madinah dan tumbuhnya dijarak yg berjauhan . Dari kenyataan tersebut, Ba`qi adalah tanah mati, bukannya tanah wakaf. Dikeranakan makamnya seorang sahabat disana, orang- orang menjadikan kuburan. Samhudi juga meriwayatkan Nabi juga memakamkan tubuh Saad bin Mu`az di rumah Ibnu Aflah yg mempunyai KUBAH dan BANGUNAN di Ba`qi. Wafaul Wafa jilid 2 m/s 84. Wallahu aโ€™lam

membangun kubah diatas kuburan adalah haram ini keyakinan kaum